Rabu, 18 November 2009

WANITA = KONSUMTIF........OOH TIDAK !

Berbagai indrustri bisnis menjadikan wanita sebagai target utama dalam memasarkan produknya, sebab wanita dari seluruh bagian tubuh serta penampilan penuh dengan aksen pelengkap yang menguntungkan para pengusaha baik dari industri produk-produk kecantikan , pembalut, fashion, aksesoris, majalah, sampai produk lain menciptakan produk khusus bersifat feminim seperti industri motor serta mobil, sofa dengan desain khusus wanita. Bahkan beberapa mall memprioritaskan tempat parkir ekslusive khusus pengunjung wanita sehingga prioritas kemudahan belanja bagi wanita menjadi target utama, ini juga bukti bahwa pengakuan kepada wanita yang cenderung senang berbelanja, selain dengung kesetaraan....tentu saja.

Berpenampilan menarik dengan merawat kecantikan, bergaya modis, dengan mengunakan aksesoris, memang tidak ada larangan malah "perlu" untuk tetap menjaga penampilan tapi kalau "trade mark" wanita identik dengan konsumtif rasanya kita jengah dengan sebutan itu, kita di justivikasi tidak produktif,menghambur-hamburkan uang. Meskipun kita harus percaya bahwa tidak semua masyarakat membuat legalisasi seperti itu kepada kita (wanita).

Bagaimana kita mencoba untuk menghilangkan image konsumtif...?
kita ingin menghilagkan image konsumtif berarti harus produktif, artinya kita harus belajar menjadi wanita yang bisa menekan "nafsu" belanja kita, cara seperti apa yang paling efektif??
sudah kita lihat baik di televisi atau pameran atau dunia nyata di lingkungan kita pasti kita sudah banyak tahu para wanita yang yang kreatif, memanfaatkan kemampuannya untuk berbisnis, tapi mulainya seperti apa? bagi pemula amatlah sulit sekali memulai apalagi yang tidak terbiasa.

Mulai lah dari yang kecil>>>
untuk memulai berbisnis atau berusaha produktif dengan melihat sekeliling kita atau potensi yang kita miliki, dulu pada saat handycame tidak semarak ini dengan harga yg masih tinggi saya memulai ke produktifan mulai dari menjadikan handycame sebagai usaha sampinga dengan memanfaatkan peluang jika ada yang menikah, sunatan, atau acara lain disekitar lingkungan kita dengan menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan dari usaha yang sejenis, saya jadikan handycame sebagai usaha sampingan karena handycame tidak di pakai setiap waktu.

kemudian ketika saya memiliki mobil -minibus selain di gunakan untuk kegiatan sehari2 pulang pergi kantor pada event2 tertentu saya menjadikan mobil pribadi untuk antar jemput penyanyi dangdut-ortul (organ tunggal) yang akan manggung serta pada event menjelang lebaran saya fungsikan untuk anter jemput penumpang di stasiun-artinya operasional mobil tidak mengambil gaji atau dari tabungan kita tapi dari kegiatan tersebut.

beberapa kawan atau tetangga dekat yang membuat kue atau makanan yang ingin dipasarkan produknya, saya selalu ambil untuk ditawarkan kepada temen2 yang lain, sehingga kita mendapatkan upah dari penjualan tersebut.

Kita tinggal di kompleks perumahan dan masih berkembang-pemasaran masih jalan, apa salahnya kalau kita ikut menjadi jasa pemasaran rumah yang akan di bangun, saya pernah melakukan itu dan tanpa disangka 15 rumah terjual, kita memetik hasilnya dari proses yang tidak sengaja kita lakukan.Mungkin bagi pengusaha atau orang yang biasa melakukan bisnis ini hanya seberapa tapi buat saya sesuatu yang luar biasa.

Saya pernah keluar dari pekerjaan dan kehilangan semua konsekuensi logis -fasilitas dari perusahaan selama 3 bulan saya hanya mengharapkan gaji suami setiap bulan dan mengaturnya dengan sangat hati2, takut tidak sampai pada bulan berikutnya, sebagai wanita yang tidak bisa diam dan biasa bekerja saya mencoba untuk memasarkan produk fashion program "MLM"(multi level marketing) dan tidak di sangka setiap bulan saya mendapatkan 300 ribu dari kegiatan yang saya lakukan, kegiatan ini menambah biaya hidup selain dari suami kita.

wanita. teman-teman ku saya hanya mengajak bahwa apa yang kita lakukan mulai dari hal kecil, kita bisa memanfaatkan apapun menjadi sesuatu yang produktif bahkan lingkungan yang kita tempati banyak potensi yang kita gali untuk menjadi produktif, bukan harus modal yang besar atau toko yang mewah atau barang ekslusive yang baru bisa kita pasarkan tetapi sesuatu yang kadang-kadang tidak kita sangka.

Mulai dari hobby .......??
Memulai sesuatu dari hobby yang kita sukai pun bisa menjadi sesuatu yang produktif, saya menjadi pedagang, memulai dengan sangat menyukai baju serta pernakpernik bayi, awalnya dulu saat saya hamil semua produk bayi tidak kompetitif seperti sekarang, setelah anak saya besar berusia 3 tahun lebih, saya tetap menyukai barang-barang yang berhubungan dengan bayi..lucu dan mengemaskan sangat bervariasi,saya mulai mengkoleksi baju-baju bayi dan pernak-pernik lucu kemudian saya tawarkan kepada ibu-ibu hamil dan hasilnya luar biasa semua barang koleksi laku terjual dan mereka menyukai koleksi ku, sampai akhirnya saya ditawari kios di pasar dan saya buka toko perlengkapan bayi, dari pengelolaan, pemasaran sampai melayani costumer saya lakukan sendiri, di pasar tradisional ..sebagian orang akan berpendapat tidak nyaman serta pendidikan tinggi orang akan jengah melakukan itu, tapi bagi saya kenapa kita harus malu melakukan hal yang "halal" meskipun disekitar pasar tradisional banyak yang sedikit mencemooh, berpendidikan tinggi, bekerja masih mau melayani costumer.itu sangat menyenangkan.
Wanita.pernahkah kita melihat bagaimana masyarakat keturunan "tionghoa" yang selalu bangga dengan berdagang dan memasarkan produknya,mereka selalu konsisten untuk selalu menjalankan sesuatu yang produktif.

Menjadi produktif ?
kapan lagi kalau kita tidak memulainya dari sekarang, dan ingat jangan pernah malu untuk melakukan sesuatu-kumpulkan dari sesuatu yang kecil serta tengok sekitar kita adakah yang bisa kita manfaatkan untuk sesuatu yang produktif........